Pengaruh Pemberian Kortikosteroid Terhadap Proses Penyem-buhan Luka pada Mencit (Mus Musculus)

  • Muhamad Febry Bagian Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
  • Aswiyanti Asri Bagian Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
  • Laila Isrona Bagian Pendidikan Kedokteran Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas Padang

Abstract

Latar belakang Proses penyembuhan luka terjadi melalui beberapa tahapan dan dipengaruhi berbagai faktor lokal dan sistemik seperti benda asing, nutrisi, konsumsi obat-obatan. Kortikosteroid banyak digunakan secara bebas oleh masyarakat untuk berbagai tujuan. Penggunaan kortikosteroid dapat mempengaruhi proses penyembuhan luka, dengan cara menurunkan proses pembentukan fibroblas, menurunkan jumlah gerakan dan fungsi leukosit, mengurangi pergerakan polimorfonuklear (PMN) keluar dari kompartemen vaskular, dan mengurangi jumlah sirkulasi limfosit, monosit, dan eosinofil, terutama dengan meningkatkan gerakan sel radang keluar dari sirkulasi. Tujuan penelitian ini untuk melihat perbedaan proses penyembuhan luka secara histopatologi pada mencit (Mus musculus) yang diberi kortikosteroid dengan jangka pemberian yang berbeda. Metode Penelitian ini adalah penelitian ekserimental dengan desain post test only controlled group yang menggunakan 18 ekor mencit putih (Mus musculus) yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok kontrol, perlakuan 1 dan perlakuan 2. Kelompok perlakuan 1 diberikan kortikosteroid dalam bentuk preparat deksametason dengan dosis 16 mg/kg/bb selama 10 hari, sedangkan kelompok perlakuan 2 diberikan deksametason dosis yang sama, selama 30 hari. Pada hari terakhir pemberian deksametason, semua kelompok, termasuk kontrol dilakukan luka insisi di punggung sepanjang 2 cm. Setelah hari ke-9 pembuatan luka, mencit diterminasi untuk diambil jaringan luka, dan dilakukan pemeriksaan histopatologik untuk menilai pembentukan jaringan granulasi dengan menghitung jumlah pembuluh darah baru, fibroblast dan sel radang menggunakan mikroskop cahaya pembesaran 400 kali pada 3 lapangan pandang. Hasil Neovaskularisasi yang terbentuk pada kelompok kontrol lebih sedikit dibandingkan kelompok perlakukan, sebaliknya jumlah fibroblast lebih banyak ditemukan pada kelompok kontrol. Jumlah netrofil pada kempok kontrol lebih sedikit dibandingkan kelompok perlakuan dan sebaliknya jumlah limfosit lebih banyak ditemukan pada kelompok kontrol dibanding perlakuan. Setelah dilakukan uji statistik menggunakan uji One Way ANOVA didapatkan perbedaan bermakna antar kelompok pada jumlah neovaskuler, fibroblas, neutrofil, limfosit, berturut-turut 0,007; 0,025; 0,009; <0,001 (p<0,05). Kesimpulan Paparan kortikosteroid sebelum terjadinya luka menunjukkan perbedaan yang bermakna pada proses penyembuhan luka, yang terlihat dari komponen jaringan granulasi yang ditemukan dibanding kelompok yang tidak diberi kortikosteroid. Demikian juga, makin lama paparan kortikosteroid diberikan, akan lebih memperlambat proses penyembuhan luka. Kata kunci: Kortikosteroid, penyembuhan luka, neovaskuler, fibroblas, neutrofil, limfosit.
Published
2017-12-21
Section
Articles